ROH KUDUS MEMBARUHI MANUSIA

1. Mazmur 51: Suatu Pengantar Singkat

Mazmur 51 ini adalah doa permohonan, yang menurut judulnya ”Doa pertobatan Daud setelah ditegur oleh Natan, karena perzinahannya dengan Batsyeba” (lihat 2 Sam 12:1 – 15).

Mazmur 51 ini terstruktur sebagai berikut:

3-4 : seruan pembukaan permohonan ampun.

5-8 : pengakuan kesalahan.

9-11 : permohonan ampun.

12-14 : permohonan hati yang murni dan roh yang rela.

15-19 : janji dengan alasan.

20-21 : doa untuk pemulihan Yerusalem.

 

2. Ide Perikope (Mzm 51: 9 – 15)

Pemazmur memohon agar dirinya disucikan dari dosa-dosanya dan dikaruniai hati yang murni dan roh yang rela, serta berjanji sebagai tanda syukur atas pengampunan dan pembaharuan hidupnya ia akan mengajarkan kemurahan Allah kepada orang berdosa, agar mereka juga kembali kepada Tuhan.

 

3. Pokok Renungan

Menurut kesaksian Alkitab, Daud adalah raja Israel yang sangat dikagumi di kalangan umat Israel dan umat kristen. Ia adalah raja pilihan Tuhan. Dari dulu hingga sekarang umumnya masyarakat cenderung ‘mengidealkan’ tokoh pujaannya, tetapi para penulis Alkitab menulis tentang tokoh-tokoh Alkitab apa adanya. Daud yang dikagumi adalah manusia berdosa yang sama seperti kita-kita dan bahkan dalam hal-hal tertentu mungkin lebih ‘buruk’ dari kita-kita. Betapa tidak, ia berselingkuh dengan seorang perempuan cantik (Barsyeba), isteri salah seorang prajuritnya (Uria) yang bertugas di medan perang. Perselingkuhan itu mengakibatkan Barsyeba hamil. Untuk menutupi aibnya Daud memanggil Uria dari medan perang agar berhubungan dengan isterinya, tetapi Uria menolaknya. Setelah upaya Daud membujuk Uria berhubungan dengan isterinya gagal, lalu, apakah Daud diam saja? Tidak! Ia memerintahkan panglima perangnya agar menempatkan Uria paling depan di medan perang agar ia terbunuh. Uria pun terbunuh di medan perang! Ternyata Daud tidak bermoral dan demi menutupi aibnya ia tega membunuh.

Sebagai seorang raja Daud dapat melakukan apa saja yang dia mau dan rakyat tidak boleh memprotesnya. Tetapi tidak bagi Tuhan! Tuhan mengutus nabi Natan untuk menegornya dengan amat keras. Bagaimanakah reaksi Daud atas tegoran nabi Natan? Daud menyadari dan mengaku dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Tuhan atas dosa-dosanya. Ia sungguh-sungguh bertobat dan mau menjalani hidup baru. Dalam Mazmur 51 Daud mengungkapkan pertobatannya secara amat mendalam.

Lewat tegoran nabi Natan, Daud mengaku dosa-dosanya. Ia telah berdosa kepada Tuhan. Ia mengaku bahwa karena ia telah berbuat dosa, maka ia adalah manusia celaka. Ia memohon kepada Tuhan agar ia disucikan dari dosa-dosanya atau agar ia dibaharui. Ia sadar bahwa ia hanya bisa menjadi manusia baru jika ia memiliki hati yang murni dan roh yang rela (mentaati segala perintah-Nya), oleh sebab itu, ia memohon kepada Tuhan agar ia dikaruniai hati yang murni dan roh yang rela. Untuk apa? Ia memohon semuanya itu agar ia dapat mengajarkan kemurahan Allah kepada orang-orang berdosa sehingga mereka berbalik kepada Tuhan.

Semua manusia adalah orang berdosa! Lalu, apakah yang membedakan umat kristen dengan orang-orang bukan kristen? Sama seperti Daud, umat kristen mengaku dosa-dosanya dan memohon agar Tuhan membarui dirinya. Ia melakukan itu agar ia dapat melayani sesamanya.

MENGASIHI TUHAN DAN SESAMA MANUSIA

Matius 22 : 37 - 40

Untuk menjadi suami-isteri berarti melakukan hal-hal tertentu. Suami-isteri perlu melakukan berbagai hal untuk membangun kehidupan keluarganya menjadi keluarga yang berbahagia lahir dan batin. Agar seluruh kegiatan suami-isteri tersebut dapat terarah, tepat-guna, dan tepat-tujuan, maka suami-isteri itu perlu mengerti dan memahami apa hal yang terutama yang merupakan makna yang sesungguhnya dari perkawinan itu sendiri sebagai pedoman untuk melakukan seluruh kegiatannya. Hal yang demikian juga berlaku dalam hidup beriman/beragama. Sebagai umat yang dipanggil oleh Tuhan dan berjanji setia kepada Tuhan, maka umat Israel diperintahkan oleh Tuhan untuk melakukan berbagai macam kehendak Tuhan sebagaimana tertulis dalam hukum Taurat. Begitu banyaknya hal yang diperintahkan oleh Tuhan untuk dilakukan oleh umat, sehingga umat perlu mengetahui apakah hukum yang paling utama/penting/dasar dari hukum Taurat itu. Hukum yang terutama dari hukum Taurat itu akan menjadi pedoman atau panduan umat agar mereka dapat melakukan semuanya itu secara terarah, tepat-guna dan tepat-tujuan. Sehubungan dengan hal ini, maka muncul pertanyaan, apakah pendapat Yesus sendiri tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat? Itulah isi perikope bacaan kita hari ini. 

Pendapat Yesus tentang “Hukum yang terutama dalam hukum Taurat” muncul sebagai jawaban Yesus atas pertanyaan seorang ahli Taurat Yahudi. Ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Ia bertanya guna mencobai Yesus. Selaku ahli Taurat, penanya sudah barangtentu mengetahuinya (lihat Luk 10:26-27). “Sudah gaharu, cendana pula. Sudah tahu, bertanya pula.” Jadi, suatu pertanyaan jebakan, bukan pertanyaan pembelajaran. Dan jawab Yesus atas pertanyaan tersebut adalah demikian, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal-budimu” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay. 37 dan 39). Jawaban Yesus tersebut bukanlah hal yang baru, tetapi hal yang lama dan yang sudah barangtentu diketahui oleh orang-orang Yahudi saleh, sebab keduanya ada tertulis di dalam kitab Taurat Musa (Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18). Sekali pun keduanya bukanlah hal yang baru, tetapi Yesus memberi pemahaman yang baru – dan bahkan revolusioner – terhadap keduanya, yaitu ketika (menurut Matius dan hanya menurut Matius, band. Mrk 12:29-31 dan Luk 10:27-28) Ia berkata “Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, …” (ay 38-39a). Dengan demikian, keseluruhannya dirumuskan sebagai berikut: “Hukum yang terutama dan yang pertama ialah ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal-budimu’ dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’.

Pemahaman baru oleh Yesus tentang hukum yang terutama dalam hukum Taurat

ini paling tidak menyatakan dua hal kepada kita yang perlu dan penting untuk kita renungkan bersama-sama, yaitu: Pertama, urutan pemberlakuannya adalah “mengasihi Tuhan” lalu “mengasihi sesama manusia”. Terlebih dahulu mengasihi Tuhan, baru kemudian menyusul mengasihi sesama manusia. Dengan demikian, mustahil orang dapat sungguh-sungguh mengasihi sesama manusia tanpa ia mengasihi Tuhan. Praktek marxisme di Uni Soviet dan terutama di Kamboja yang ateis pada abad ke-20 membuktikan hal ini. Marxisme bertujuan untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas yang bebas dari eksplotasi, tetapi untuk mewujudkannya mereka melakukan revolusi yang memakan atau membantai anak-anaknya sendiri. Pada masa pemerintahan rezim Kmer Merah, negeri Kamboja digelari sebagai “The killing field” (medan pembantaian), suatu noda hitam dalam sejarah bangsa-bangsa di Asia pada abad ke-20 yang lalu. yang hanya mengutamakan hal berbuat baik terhadap sesama. Agama “baik-baik” ini timbul sebagai kritik terhadap kenyataan seringnya terjadi permusuhan dan bahkan pertumpahan darah di kalangan umat beragama, baik interumat beragama maupun antarumat beragama. Ketika oknum-oknum tertentu dari kalangan umat beragama melegitimasi atau membenarkan sikap permusuhannya dan tindakan pembunuhannya terhadap orang-orang lain atas dasar kesungguhan imannya kepada Tuhan atau atas dasar agama yang dianutnya, maka manfaat agama dalam kehidupan masyarakat dipertanyakan secara amat serius. Oleh sebab itu, lewat perikope bacaan kita hari ini Yesus mengingatkan kita umat kristen kapan dan di mana pun bahwa jika kita sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, maka nyatakanlah itu dengan mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri dalam hidup sehari-hari.

Kedua, kedua hukum itu (‘mengasihi Tuhan’ dan ‘mengasihi sesama manusia’) adalah sama. Kedua hukum itu sama dalam arti bahwa keduanya sama bobotnya dan keduanya merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan seperti “dua sisi dari satu mata uang”, sehingga salah satu di antara keduanya tidak boleh dilanggar demi mengutamakan satunya yang lain. Mengasihi sesama tidak boleh dilanggar demi mengasihi Tuhan; dan demikian juga mengasihi Tuhan tidak boleh dilanggar demi mengasihi sesama. Mengasihi sesama harus dilakukan demi kesungguhan kita mengasihi Tuhan; dan demikian juga mengasihi Tuhan harus dilakukan demi kesungguhan kita mengasihi sesama. Beriman/beragama selalu berarti mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama sekaligus. Demi mengutamakan yang satu lalu melanggar satunya yang lain berarti melanggar kedua-duanya sekaligus; dan melanggar salah satu hukum itu berarti melanggar kedua-duanya sekaligus. Dengan demikian, mustahil orang mengaku bahwa ia mengasihi Tuhan tanpa ia mengasihi sesama. “To be religious is to be human”, artinya: menjadi orang yang beriman/beragama berarti menjadi orang yang berperikemanusiaan. Marilah kita beragama/beriman secara yang demikian itu, sebab demikianlah hal yang diajarkan oleh Yesus, Juruselamat kita. Amin!